Roseau adalah ibu kota penuh warna di mana musik reggae dan dance hall terdengar hampir di mana-mana, orang-orang melesat di jalan-jalan sempit dengan skuter, dan pemandangan indah Karibia serta pegunungan dapat dinikmati dari hampir setiap titik. Dominica dijuluki sebagai "Pulau Alam" Karibia, dan Roseau dikelilingi oleh rangkaian lanskap yang spektakuler, menjadikannya surga yang luar biasa untuk melarikan diri.
Penduduk asli Carib di Dominica dengan gigih melawan kolonisasi, dan pulau ini adalah yang terakhir di wilayah tersebut yang diambil alih oleh bangsa Eropa. Prancis mengklaim pulau ini pada abad ke-17 sebelum menyerahkannya kepada Inggris pada abad berikutnya. French Quarter tetap menjadi bagian paling bersejarah di kota ini, di mana jalan-jalannya dipenuhi dengan bangunan kayu anggun yang menampung toko, bar, dan restoran yang semarak.
Pada tahun 1730, seorang pendeta Prancis, Guillaume Martel, mendirikan gereja permanen pertama di pulau itu. Terbuat dari kayu solid, gereja tersebut hancur akibat badai pada tahun 1816. Gereja yang berdiri saat ini dibangun di lokasi tersebut 24 tahun kemudian dan diperluas selama abad berikutnya. Hasil akhirnya adalah salah satu struktur terindah di Dominica dan contoh luar biasa dari gaya arsitektur Gothic Romanesque Revival. Interior yang diukir dengan halus menampilkan banyak mural hias yang dilukis oleh para ahli lokal, dan jendela kaca patri mewarnai dinding putih dengan pelangi cahaya berwarna-warni.
National Museum of Dominica bertempat di sebuah bangunan kecil berwarna oranye cerah yang berasal dari tahun 1810. Koleksi luar biasa ini menyoroti arkeologi, sejarah sosial, budaya, dan geologi pulau tersebut, menceritakan kisah Dominica melalui foto, furnitur kolonial, potret, spesimen hewan, kerajinan penduduk asli, dan banyak lagi. Dengan kurasi dan pelabelan yang baik, koleksi ini memberikan latar belakang yang kuat untuk eksplorasi pulau lebih lanjut.
Dominica memiliki rangkaian flora dan fauna yang luar biasa, dan pengunjung dapat melihat banyak spesies dari dekat di Botanical Gardens. Tepat di sebelah timur pusat kota, taman ini dipenuhi dengan warna, aroma, dan pemandangan yang fantastis. Lahan seluas empat puluh ekar ini rimbun dengan pohon anggrek dan kayu Carib, palem botol, dan banyak bunga sabinea carinalis yang mekar, yang merupakan bunga nasional. Sejumlah burung beo yang berwarna cerah dan mencolok juga menjadikan tempat ini sebagai rumah mereka.
Tepat di luar kota namun tidak jauh dari Botanical Gardens terdapat Emerald Pool, tempat berenang favorit penduduk setempat. Kolam ini dialiri oleh air terjun setinggi 50 kaki, dan airnya terasa dingin menyegarkan. Berenang di lingkungan surgawi ini adalah pengalaman yang nikmat, dan kolam ini diterangi oleh sinar matahari yang disaring pepohonan, memberikan suasana yang sangat indah.
Emerald Pool adalah bagian dari Morne Trois Pitons National Park, situs Warisan Dunia UNESCO yang mencakup lebih dari 17.000 ekar wilayah pedalaman pulau. Sorotan lain dari taman ini adalah Trafalgar Falls, yang sebenarnya terdiri dari dua air terjun terpisah. Air terjun yang lebih rendah mengalir ke area Boiling Lake dari Sungai Trois Pitons, menciptakan kolam yang dalam dan luas yang sempurna untuk berenang. Air dari air terjun atas jatuh dari tebing setinggi 200 kaki sebelum mencapai mata air belerang panas. Jalur menuju kedua air terjun tersebut relatif mudah untuk didaki, namun banjir bandang menjadi perhatian serius setelah hujan lebat di pegunungan.